Author Archives: KKG PAI SUMEDANG

Kisi-Kisi USBN PAI SD tahun 2014

Penyusunan soal USBN PAI dari semua jenjang; SD, SMP, SMA, dan SMK telah dilaksanakan pada hari Jumat, 7 Februari 2014 bertempat di Gedung BKM jalan Burangrang 17-19 Bandung.

Untuk selanjutnya soal tersebut akan didistribusikan ke tiap Kab./Kota melalui Seksi PAIS. Semoga pada akhir bulan ini soal tersebut sudah sampai di tiap kab. kota.

Klik tautan berikut ini untuk mengunduh Kisi-Kisi USBN PAI 2014 untuk jenjang SD.

Kisi_Kisi_USBN_PAI_2014_SD

Workshop Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural Bagi GPAI SD


NAMA KEGIATAN

Workshop Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural Bagi GPAI SD

MATERI WORKSHOP

  • Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dalam Pengembangan PAI berbasis Multikultural;
  • Kebijakan Direktorat PAI dalam Peningkatan Kinerja organisasi pembina profesi KKG PAI;
  • Pendidikan Multikultural dalam Pandangan Islam;
  • Peningkatan kurikulum PAI berbasis Multikultural;
  • Peningkatan bahan ajar PAI berbasis Multikultural;
  • Peningkatan media pembelajaran PAI berbasis Multikultural;
  • Peningkatatan sarana pembelajaran PAI berbasis Multikultural

WAKTU PELAKSANAAN

Dilaksanakan selama 2 (dua) hari, Kamis-Jumat, 23-24 Februari 2012

TEMPAT

Tempat Pelaksanaan Kegiatan : Gedung Asrama Haji Kabupaten Sumedang Jl. Kutamaya No. 25 Sumedang

PESERTA

Peserta berjumlah 52 orang, utusan dari tiap kecamatan.

DATA GURU PAI PADA SEKOLAH UMUM

Berikut daftar nama Guru PAI pada sekolah umum untuk Kabupaten Sumedang tahun 2011.

Silakan ikuti tautan di bawah ini:
Data_Guru_PAI_2011-05

PENTAS PAI NASIONAL KE 5

-KELAS V SD SUDAH JADI SINGA PODIUM DI PENTAS PAI-

Perhelatan Pekan Ketermapilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) Tingkat Nasional yang untuk ke V kalinya telah sukses digelar di Kota Bekasi pada tanggal 12-16 Juli 2011. Kegiatan yang mengambil tema “Membangun Generasi Beriman, Bertaqwa dan Berakhlak Mulia” ini diadakan dengan tujuan untuk meninkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT dan juga sebagai ruang untuk mempererat tali shilaturahim dan membina kesatuan dan persatuan bangsa antara seluruh siswa dari tingkat SD-SMA. Selain itu, kegiatan ini juga sebagi tempat untuk para siswa mengekspresikan minat dan bakat mereka yang tentunya dalam koridor Pendidikan Agama Islam. Kegiatan yang memperebutkan Piala wakil Presiden Republik Indonesia tersebut menghadirkan berbagai macam lomba dan diikuti 561 peserta yang terdiri dari 33 propinsi dan kini telah menemukan jagoan-jagoan baru dalam macam lomba yang diadakan, diantaranya lomba pidato tingkat SD yang dimenangkan oleh kontingen dari Jawa Tengah dan dia adalah Sulthon Ali Basyar siswa kelas 5 SD. Tim Website DITPAIS berhasil mewawancarai Abdul Gaffar orang tua dari Sulthon Ali Basyar. Berikut ini petikan wawancaranya. Bagaimana perasaan bapak atas menangnnya Sulthon dalam lomba pidato tingkat Sekolah Dasar di Pentas PAI Tingkat Nasional ini? Saya sangat senang dan bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk menjadi pemenang dalam Pentas PAI ke V Tingkat Nasional ini. Bagaimana cara bapak mendidik anak? Awalnya saya punya 13 anak dan 3 orang meninggal dunia dan yang sekarang hidup berjumlah 10 orang dan Sulthon ini adalah anak yang ke 9. Alhmadulillah 7 dari 10 anak saya tersebut sudah bisa cermahan semuanya. Perlu diketahui bahwa semenjak saya punya anak pertama sampai saat ini tidak punya televisi. Bukan berarti saya tidak mampu untuk membeli atau fanatic terhadap barang-barang seperti itu. Saya memandang bahwa alat-alat modern seperti televise tersebut sangat bagus dan ada ilmu juga di dalamnya namun saya ingin anak-anak saya tidak terlena. Ketika anak-anak saya menonton televisi dirumah keluarganya pasti saya pantau agar dapat mengarahkan dan memberikan pemahaman apa yang sedang mereka tonton tersebut. Selain itu, saya pun sangat memberikan batasan kepada anak-anak untuk bermaian diluar rumah. Anak-anak saya lebih banyak diasuh dalam rumah. Saya dan istri saya memberikan pemahaman kepada meraka baik itu tentang pendidikan maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan moral. Hal ini saya lakukan bukan berarti lingkungan saya tinggal tidak baik, lingkungan saya sangat baik bahkan cenderung islami namun buat saya, ketika anak-anak dilepas bermaian maka akan banyak waktu yang terbuang sia-sia dan jika mereka ada dirumah akan lebih mudah untuk memberikan arahan-arahan agar sampai pada target-targetnya. Alhamdulillah sampai saat ini seluruh anak saya tidak ketinggalan dengan pendidikan baik formal maupun non formal dan kesemuanya sepuluh besar disekolahnya. Bapak sangat memberikan perhatian pendidikan anak-anak, bagaiman cara orang tua bapak mendidik? Sejak kecil saya telah ditinggal orang tua sehingga tidak sempat mencicipi didikan orang tua langsung dan dengan keadaan seperti itu juga membuat perekonomian keluarga menjadi tidak menentu dan berimbas pada pendidikan saya sehingga masa belajar saya dulu di pesantren yang terletak didaerah Kuningan agak terbengkalai. Tapi dari pesantren tersebut sedikit banyak saya kenal dan paham beberapa kitab kuning yang menjadi bacaan wajib santri seperti Jurmiyah, Fathul Qorib, Tijan Darori dan lain sebagainya. Dengan pengalaman pahit tersebutlah saya bertekad agar anak-anak saya harus sekolah dan harapan saya sampai tingkat yang paling tinggi saya akan perjuangkan dengan sekuat-kuatnya agar mereka dapat hidup baik di dunia maupun akhirat karena ilmu adalah bekal yang paling utama buat anak manusia. Apa kesibukan bapak sehari-hari? Wah..saya ini hanya petani biasa yang setiap hari kerja panas-panasan di sawah nyangkul. Alhamd.

(Sumber : http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/pais.htm)

UNDANGAN RAPAT KKG PAI

Disampaikan kepada seluruh Ketua KKG PAI Sumedang juga Panitia PENTAS PAI 2011 dimohon hadir pada acara rapat pada hari Selasa tanggal 13 Desember 2011 pukul 08.00 WIB bertempat di Aula Kementerian Agama . Substansi: Uang Kontribusi, membawa daftar nama peserta lomba (dibuktikan dengan berita acara hasil PENTAS kec./ SK juri), Technical Penjurian.

Tambahan: Lomba-lomba yang dilaksanakan dalam rangka HAB Kemenag, kaos gerak jalan, dan kedinasan lainnya.

Terima kasih.

DAFTAR URUTAN UNDIAN PENTAS PAI 2011

Berikut adalah daftar urutan pemanggilan peserta untuk seluruh mata lomba PENTAS PAI SD tingkat Kab. Sumedang tanggal 21 Desember 2011 yang diundi pada hari Senin tangal 14 November 2011 bertempat di aula Kementerian Agama Kantor Kabupaten Sumedang.

Silakan download link berikut:
Label_Ruangan_Pentas_2011
Form_Pendaftaran
Undian_Pentas

Bagan_CCA
Daftar_Peserta_CCA
Maqro_MTQ

Permen PAN dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009

Berikut adalah Permen PAN dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 beserta lampirannya. Bagi yang memerlukan, silakan download link di bawah ini!
PERMENPAN_GURU_FINAL
LAMPIRAN-1-PERMENPAN
LAMPIRAN-2-PERMENPAN
LAMPIRAN-3-PERMENPAN
LAMPIRAN-4-PERMENPAN
LAMPIRAN-5-PERMENPAN
LAMPIRAN-6-PERMENPAN
LAMPIRAN-7-PERMENPAN
LAMPIRAN-8-PERMENPAN

NOTULA RAPAT KKG PAI KABUPATEN TANGGAL 28 JULI 2011

• Segera susun program kerja 2011-2012 (materi prioritas: penguatan 4 kompetensi guru, ekstra kurikuler)
• Segera susun perencanaan PENTAS PAI dan realisasikan di kecamatan. (PENTAS adalah Pekan Keterampilan dan Seni PAI sebutan lain untuk Sapta Lomba)
• Intensifikasi PAI di bulan Ramadhan
• Penawaran bahan seragam batik untuk seluruh GPAI se-kabupaten (mohon konfirmasinya)

PESERTA PENTAS PAI UTUSAN KAB. SUMEDANG 2011


DANGDING DA’WAH

PangabéDangding Da’wah ini kami angkat ke blog ini, dikarenakan isinya syarat dengan tuntunan agama.

Bait-bait syair pada Pupuh ini, belum pernah dipublikasikan di media apapun, yang merupakan hasil karya original Almarhum Ki Béngkok (Bapak E. Memed bin Wikarma) yang tiada lain adalah bapak dari Admin Blog KKG PAI Sumedang ini.

Beliau dilahirkan di Desa Jambu Kec. Conggeang Kab. Sumedang pada tahun 1932 dan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Sabtu, 3 Januari 2004 (11 Dzulqo’dah 1424 H.) pada pukul17.30 WIB di RSU Sumedang.

Berikut sebagian dari dangding-dangding yang pernah digubahnya sebelum wafat, diantaranya:

1. MIM PITU (M.7) – (PUPUH SINOM)

Mim pitu nu kacarita
Aksara mim tujuh yakti
Ari éta papayanna
Minum madat maén maling
Anu opat ngahiji
Ibarat dulur sakandung
Da éta mah panasaran
Mun geus migawé nu hiji
Teu sugema lamun teu tepi ka opat

Padahal nya éta pisan
Bibit buitna berewit
Matak timbul kajahatan
Karacunan anu tadi
Saena para wargi
Omat ulah rék katipu
Mokaha ngasaan arak
Pék ngicip-ngicip saeutik
Engkéna mah éta jadi katagihan

Atawa nu dicampuran
Saperti ubar reujeung Bir
Éta gé taya bédana
Sanajan ukur saeutik
Tetep matak balai
Kadé ulah rék kaliru
Mokaha da pikeun ubar
Teu sieun pédah saeutik
Omat pisan ulah boga tékad halal

Ari nu disebat madat
Ngaran ayeuna narkotik
Ku pangarang ditambahan
NARKOTITKA éta uni
Ari hartos sayakti
Nagara téh bakal runtuh
Mun jalma-jalma teu iman
Takwa kanu Maha Suci
Sanajan pél matak mabok narkotika

Ari hartosna NARKOBA
Pangarang ngaran ngaganti
Éta ku basa daérah
Supaya jadi kaharti
Hartosna hiji-hiji
Ngaran-ngaran obat éstu
Éta teh anu dilarang
Ku nagara jeung agami
Éta pisan nu ngaruksak kana akhlak

Rumaja reujeung barudak
Jadi korban éta bukti
Urang kudu bisa nyegah
Saha baé anu bukti
Migawé éta sidik
Ku kituna urang hayu
Babarengan ngabasmina
Sangkan nu ngarora tingtrim
Tina bahya narkoba narkotik arak

Madon anu kalimana
Hubungan pameget istri
Teu karana akad nikah
Ijab kobul ti pa Wali
Éta éstu dipahing
Teu nurut tuladan Rosul
Bakal aya madorotna
Dina sanggeusna ngajadi
Enyaéta istri téh osok bangkayak

Tah éta mun kajadian
Anu kacarios tadi
Bapa téh kedah waspada
Nartibkeun dimana lahir
Mun bayina lalaki
Éta hukumna éstu
Hartosna moal tiasa
Terus wali nampi waris
Nu istri gé teu waris teu diwalian

Kanggo ngalereskeun éta
Asal sadar éta gampil
Ulah aya basa éra
Éta pasrahkeun ka hakim
Margi mun asal wali
Bari lain anu nyalur
Éta téh taya hartosna
Pasid nikah ngandung harti
Sami baé hukumna téh éta jinah

Margina pang kedah sadar
Ari bayi éta suci
Henteu aya kalepatan
Kolotna nu lepat yakin
Tah kitu para wargi
Ayeuna téh urang hayu
Kudu pada haradéan
Sangkanna ulah ngajadi
Kajadian anu awon balukarna

Anu sok jadi masalah
Upami putrana istri
Dina parantos déwasa
Tepung jodo ulah sulit
Kari pihak lalaki
Mun hayang sah tikah éstu
Ijab kobul éta tikah
Ku walina wali hakim
Margi kanggo turunan nu saterasna

Kanggo nyegah kajadian
Anu matak jadi sulit
Putra-putri tos déwasa
Sing caket kana agami
Ku sepuhna utami
Kedah sina nyiar élmu
Nya élmu soal agama
Supaya dirina ngarti
Bisa apal kanu halal sareng haram

Mun kaayaan darurat
Barudak tos sapakolih
Énggal baé diakadan
Ku wali najan di bumi
Kituna bapa wali
Kedah terang sarat rukun
Nu salapan pasal téa
Pinasti bakal ngajadi
Mun teu terang mungkur baé ka ulama

(Pangabé, 31/01/2002)

2.    Lamdasa (L.10) – (PUPUH MAGATRU)

Dangdanggula poma ulah lali
Ari nafsu pangajakna ala
Ngolo kawas ka nu gélo
Baku tukang panglulu
Ngangajak lampah pamali
Lamun urang ngawula
Tangtu ilang malu
Temahna jadi mamala mantak lali
Paribasana paduli
Lamun aya nu nyela

3.    LANSIA (Lanjut Usia) – (Pupuh Mijil)

Ari wajib éta angka hiji
Ari sunnah enol
Najan loba sunnah dipigawé
Tapi wajibna kaluli-luli
Éta taya harti
Ibadahna gugur

Rukun Islam éta lima wajib
Sami pada nyaho
Tapi ummat teu kabagi kabéh
Kawajiban pikeun fakir miskin
Éta ngan kabagi
Ngan saukur tilu

Syahadat Sholat éta kabagi
Puasa Romadlon
Ari zakat jeung munggah haji téh
Jejeg lima éta keur nu sugih
Sangkanna ngajadi
Haji anu mabrur

Fakir miskin tong ngarasa sedih
Sa-pédahna lowong
Teu boga ganjaran nu dua téh
Mungguh Gusti sifat welas asih
Masihan pangganti
Asal maké élmu

Amal urang asal maké ilmi
Ngéléhan sodakoh
Éta ogé sami zakat baé
Tapi haté kudu sing beresih
Ulah sulit ati
Komo jadi catur

Ari munggah haji fakir miskin
Dipasihan wartos
Dina amanat khutbah Jum’at gé
Haji fakir sareng raya miskin
Urang kudu hadir
Jum’ah sing khusyu

Aduh Gusti Anu Maha Asih
Sim abdi rumaos
Tékad ucap lampah téh campoleh
Beurang peuting henteu ngeunah cicing
Bari loba nyiar-nyiar pangabutuh

Pangabutuh keur hirup di lahir
Ibadah mah poho
Paribasa teu kaburu baé
Leuheung sunnah éta teu kaberik
Tampolanna wajib
Éta teu kaburu

Ayeuna mah ku abdi kapikir
Na rék gawé naon
Anggahota geus sagala lémpér
Anggur éling ka Nu Maha Suci
Modal nyiar ilmi
Nyembah ka Yang Agung

Margina mah ari tholab ilmi
Sajabina ngartos
Ganjaranna éta leuwih gedé
Niat indit bari khusyu ati
Dugi ka gék calik
Dosa téh murudul

Laleungitan kitu mungguh Gusti
Tapi ulah sombong
Sanajan enggeus cupar papancén
Tapi urang kudu sing taliti
Nu jadi panyakit
Dina ngolah élmu

Ngamalkeun élmu téh kudu ta’dhim
Hartosna tawadlo
Ucap lampah kudu dépé-dépé
Cara kitu pinasti kapanggih
Rupaning panyakit
Nu ngaruksak élmu

Ujub ria éta ieu aing
Rasa manéh nyaho
Ka batur sok nganggap sepélé
Henteu naliti diri pribadi
Anggur nalungtik
Kasalahan batur

Lamun kitu téh kana pinasti
Kajadian garot
Maksud alus hasilna téh goréng
Jalmi saé di payuneun Gusti
Nu rumasa laip
Teu ngarasa alus

4.    SALAH HARTI – (PUPUH MIJIL)

Loba jalma kaprah salah harti
Pajahkeun  téh gélo
Padahal mah musibah éta téh
Henteu éling kana purwadaksi
Ku kersaning Gusti
Enggoning keur hirup

Pangarang nukilna tina hadits
Waktos Rosululloh
Sareng sohabat mendak nu aéb
Aya jalmi anu bubuligir
Teu nganggo sacewir
Pakéan nu nyarung

Sohabat nyarios itu gusti
Aya anu gélo
Saur Rosululloh éta sanés
Éta mah jalmi anu teu éling
Kaleresan kénging
Musibah nu Agung

Nu gélo mah éta anu éling
Sarta bari nyaho
Lampah goréng keukeuh dipigawé
Henteu ngarti embung nyiar ilmi
Tara daék ngaji
Teu ari ku ripuh

Ayeuna urang hayu naliti
Diri téh ditaros
Kaasup naon atuh urang téh
Naha kaasup jalmi nu ngarti
Sarta bari éling
Atawa burung                   

(Pangabé, 5 – 01 – 2002)

5.    SILOKA (Irung Mancung) – (PUPUH PUCUNG)

Irung mancung dieunteupan laleur tilu
Ditepak teu beunang
Eunteup ka nu biwir jebléh
Huntu tonggar dieunteupan bango butak

Siloka téh éta aya dua simbul
Mangrupi pangajak
Kana goréng reujeung hadé
Éta kitu nu kapendak ku pangarang

Naon atuh ari éta simbul irung
Anggahota badan
Anu salilana jéntré
Tara bohong anu sakur kapanggihna

Réntétanna reujeung laleur anu tilu
Hartos laleur éta
Ucap, lampah, reujeung haté (iman)
Salilanan migawé dinu jalan hak.

Najan digoda ku anu mantak untung
Hasil lampah salah
Ukur ceurik meper haté
Nafakuran akibat nu kahareupna

(Hartos tonggar):
Naon atuh ari éta simbul huntu
Nyatana pangucap
Ngawengku baham éta téh
Komo pisan ieu mah jeung bari tonggar

Gawéna téh ngan ukur ngomongkeun batur
Anu tanpa guna
Keur diri reujeung nu sanés
Nyaéta anu disebutna ngupat

Simbul bango lamunna pareng ngajentul
Sukuna sabeulah
Napak sabeulah méréngkél
Éta ciri, éta simbul ajaran nu sifat ahad

Huntu tonggar anu tadi geus kasebat
Najan diajakan
Ka ajaran sifat ahad gé
Tetep butek dolim poék pamikiran

Kasimpulan nu ka-hiji keur nu jujur
Najan diajakan
Laku lampah anu goréng
Tetep tagen dina pamadegannana

Nu ka-dua laku lampah nu teu jujur
Jalma tukang salah
Salilana embung éléh
Gawéna téh ngan ukur meunang sorangan

Na kumaha lamunna ari ari geus kitu
Kari urang pasrah
Sumerah kana papastén
Saé awon éta téh takdir pangéran